09.00 am
Sabtu ini, kita kembali bertemu, ya setelah beberapa pekan tak saling berjumpa bahkan hampir dua bulan lamanya. Terlihat betapa rindunya dirimu dan diriku akan pertemuan seperti ini.
Dan lagi-lagi kita bertemu karena suatu undangan pernikahan, tapi kali ini temanmu yang mengundang kita.
Sudah beberapa kali kita bertemu karena suatu undangan pernikahan, kadang itu dari temanmu, kadang dari temanku, kadang juga dari orang tua kita.
Pagi ini seperti biasa kau terlihat begitu cantik dan berseri, meski kutahu jarang sekali kau menggunakan make up untuk mempercantik wajahmu. Wajar saja karena wajahmu memang dasaran sudah cantik. Dan hari ini dapat dipastikan kau tak menggunakannya lagi. Berbeda sekali dengan diriku yang tetap terlihat biasa saja meski sudah dandan 1 jam lamanya. Tapi lagi-lagi kau menghiburku dengan pujian itu. Pujian yang selalu membuat kita tertawa.
10.00 am
Kita pun berangkat menuju lokasi pernikahan yang tidak jauh dari rumahmu. Temanmu itu seperti keluarga bagimu, itu yang kau katakan padaku. Sehingga kau pun meminta untuk dapat menghadiri ijab qobul yang tidak lama lagi akan diikrarkan mempelai pria. Menurutmu itulah saat-saat yang paling penting dan mengharukan, selalu terlihat air mata menggenang di bawah kelopak matamu. Kau terharu dan selalu terharu akan peristiwa seperti ini, bahkan pada acara orang yang tak kau kenal sekalipun. Seperti saat kita melihat video seorang mempelai pria melantunkan Surah Ar-Rahman sebagai maharnya. Ku lihat butiran-butiran air mata jatuh dari mata indahmu. Kau pun ingin seperti itu tapi dasar bodohnya aku yang selalu melupakan hafalanku.
10.30 am
Penghulu telah siap dengan segala kelengkapan administrasinya, wali mempelai wanita telah siap dengan segala keikhlasannya melepas anak perempuannya, dan mempelai pria telah siap dengan segala tanggung jawabnya menjadi pemimpin keluarga barunya kelak. Ku lihat kau pun telah siap dengan genangan air mata yang sebentar lagi kau tumpahkan dan senyum kebahagiaan tentunya. Tamu undangan terlihat tidak sabar melihat peristiwa sakral ini, berbagai ekspresi kebahagiaan tercurah dari raut wajah mereka.
10.45 am
Mempelai pria terlihat begitu tenang meski jantungnya tidak demikian. Dapat kurasakan bagaimana deg-deg-annya sang mempelai dihadapan calon mertuanya, walaupun sebelumnya mereka telah akrab dengan pertemuan-pertemuan yang sering dilakukan mereka. Ayat suci Al-Quran telah dilantunkan dengan segala keindahannya, menenteramkan siapa saja yang mendengarnya. Bapak penghulu mulai mendinginkan ketegangan dengan banyolan-banyolan khasnya. Aqad nikah akan dimulai, hening dan sunyi menyelimuti suasana, larut dalam kesucian peristiwa sakral ini. Begitu juga dirimu, hanyut akan kesucian, keheningan, dan keharuan yang membuat matamu mulai menitikkan air mata.
10.55 am
Barakallahu lak wa baraka 'alaik...
Terdengar doa-doa dari semua tamu undangan yang datang diselingi tangis bahagia terpancar di setiap wajah yang menyaksikan. Begitu juga dirimu yang kembali meneteskan air mata dan kini mengalir di kedua pipimu yang chubby. Ku yakin saat itu pula para penghuni langit mendoakan kedua mempelai itu dengan segala nyanyian do'a mereka.
11.10 am
Kedua mempelai kini telah sah menjadi Raja dan Ratu yang duduk di singgasana keberkahan yang kita sebut keluarga. Bergantian tetamu menyelamati serta mendoakan sang pengantin. Senyum kebahagiaan terpancar dari kedua wajah yang baru saja menyempurnakan agamanya. Tak ketinggalan kita pun menyelamati dan mendoakan mereka, salam dan peluk hangat terjadi begitu saja meski ku belum mengenalnya. Saat itu ia berbisik, cepet nyusul akh. Aku pun mengamini sepenuh hati.
11.40 am
Kita berdua begitu asik menyantap hidangan yang disuguhkan tuan rumah, dan kita pun bersenda gurau dengan candaan-candaan yang biasa kita lantunkan secara spontan. Kau tertawa dan aku pun tertawa, menikmati pertemuan kita yang memang langka terjadi, karena kesibukan kita dan prinsip yang telah kita sepakati. Ya prinsip kita untuk saling menjaga kesucian.
11.45 am
Tiba-tiba saja kita terdiam, saling membisu, menatap kedua mempelai. Mungkin kau sedang memikirkan apa yang sedang kupikirkan, ya pasti tentang hal itu lagi. Tapi kali ini aku sudah siap jika kau tanyakan lagi. Kutunggu beberapa detik pertanyaan yang biasa kau tanyakan padaku, tapi tidak juga kau tanyakan. Mungkin kau sudah bosan menanyakannya dan sudah dapat menebak jawabannya. Kali ini aku akan jawab berbeda dari biasanya, ayo tanyakan saja, kataku dalam hati. Tapi tidak juga keluar pertanyaan itu.
11.50 am
Aku pun bersuara memecah kebisuan kita. Kau terdiam dan siap menyimak kata-kataku. Kata-kata yang mungkin akan membuatmu terperanjat. Tahun depan, aku memulai percakapan, ya tahun depan jika Allah menghendaki, kita yang akan ada di singgasana itu, kau dan aku. Ini janjiku, ini janjimu, ini janji kita :)
10.55 am
Barakallahu lak wa baraka 'alaik...
Terdengar doa-doa dari semua tamu undangan yang datang diselingi tangis bahagia terpancar di setiap wajah yang menyaksikan. Begitu juga dirimu yang kembali meneteskan air mata dan kini mengalir di kedua pipimu yang chubby. Ku yakin saat itu pula para penghuni langit mendoakan kedua mempelai itu dengan segala nyanyian do'a mereka.
11.10 am
Kedua mempelai kini telah sah menjadi Raja dan Ratu yang duduk di singgasana keberkahan yang kita sebut keluarga. Bergantian tetamu menyelamati serta mendoakan sang pengantin. Senyum kebahagiaan terpancar dari kedua wajah yang baru saja menyempurnakan agamanya. Tak ketinggalan kita pun menyelamati dan mendoakan mereka, salam dan peluk hangat terjadi begitu saja meski ku belum mengenalnya. Saat itu ia berbisik, cepet nyusul akh. Aku pun mengamini sepenuh hati.
11.40 am
Kita berdua begitu asik menyantap hidangan yang disuguhkan tuan rumah, dan kita pun bersenda gurau dengan candaan-candaan yang biasa kita lantunkan secara spontan. Kau tertawa dan aku pun tertawa, menikmati pertemuan kita yang memang langka terjadi, karena kesibukan kita dan prinsip yang telah kita sepakati. Ya prinsip kita untuk saling menjaga kesucian.
11.45 am
Tiba-tiba saja kita terdiam, saling membisu, menatap kedua mempelai. Mungkin kau sedang memikirkan apa yang sedang kupikirkan, ya pasti tentang hal itu lagi. Tapi kali ini aku sudah siap jika kau tanyakan lagi. Kutunggu beberapa detik pertanyaan yang biasa kau tanyakan padaku, tapi tidak juga kau tanyakan. Mungkin kau sudah bosan menanyakannya dan sudah dapat menebak jawabannya. Kali ini aku akan jawab berbeda dari biasanya, ayo tanyakan saja, kataku dalam hati. Tapi tidak juga keluar pertanyaan itu.
11.50 am
Aku pun bersuara memecah kebisuan kita. Kau terdiam dan siap menyimak kata-kataku. Kata-kata yang mungkin akan membuatmu terperanjat. Tahun depan, aku memulai percakapan, ya tahun depan jika Allah menghendaki, kita yang akan ada di singgasana itu, kau dan aku. Ini janjiku, ini janjimu, ini janji kita :)
I For You :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar